Oleh: Tgk Ridwan Bintang
Takengon |suaragayo.id| - Cinta kepada negeri bukan hanya diwujudkan dengan menerima semua keadaan tanpa suara. Cinta kepada tanah air juga hadir melalui kepedulian, keberanian, dan kesungguhan untuk menyampaikan kebenaran demi kebaikan bersama.
Lagu "Sumbang" karya Iwan Fals yang lahir pada tahun 1983 merupakan salah satu bentuk kegelisahan sosial dan ungkapan keprihatinan terhadap kondisi bangsa pada masa itu. Melalui syairnya, lagu tersebut menggambarkan adanya jarak antara harapan masyarakat, janji penguasa, dan kenyataan yang dirasakan oleh rakyat.
Kata "sumbang" menggambarkan sesuatu yang tidak selaras, ketika nilai keadilan, amanah, dan kesejahteraan belum sepenuhnya berjalan sebagaimana harapan. Namun, kritik terhadap keadaan bukanlah tanda kehilangan cinta kepada negeri. Justru kepedulian terhadap bangsa menjadi bukti bahwa seseorang masih memiliki rasa tanggung jawab terhadap tanah airnya.
Dalam pandangan Islam, cinta kepada tanah air merupakan bagian dari kecenderungan alami manusia yang memiliki nilai kebaikan. Abu al-Qasim Syihabuddin Abdurrahman bin Ismail yang dikenal dengan Abu Syamah (wafat 665 H) dalam kitabnya Syarhul Hadits al-Muqtafa fi Mab’atsil Nabi al-Mushtafa menukil perkataan Imam al-Suhaily tentang kisah Waraqah bin Naufal ketika menyampaikan kepada Rasulullah SAW bahwa beliau akan didustakan, disakiti, bahkan diusir oleh kaumnya.
Ketika mendengar bahwa beliau akan diusir, Rasulullah SAW bertanya:
“Apakah mereka akan mengusirku?”
Menurut Imam al-Suhaily, pertanyaan Rasulullah SAW tersebut menunjukkan adanya kecintaan yang mendalam terhadap tanah kelahiran dan beratnya berpisah dari negeri yang dicintai.
Hal ini memberikan pelajaran bahwa mencintai negeri bukan berarti menutup mata terhadap kekurangan yang ada. Cinta sejati justru mendorong seseorang untuk memperbaiki, menasihati, dan menjaga negerinya dengan cara yang baik dan penuh tanggung jawab.
Setiap orang memiliki jalan masing-masing dalam berkontribusi untuk bangsa. Ada yang berjuang melalui ilmu, ada yang mengabdi melalui pelayanan, dan ada pula yang menjaga negeri dengan menyampaikan nasihat serta kritik yang membangun.
Menyuarakan kebenaran, keadilan, dan kemaslahatan bukanlah bentuk permusuhan terhadap bangsa. Selama dilakukan dengan adab, niat yang baik, dan menjaga persatuan, suara tersebut merupakan bagian dari cinta kepada negeri.
Karena tidak semua manusia akan memiliki pandangan yang sama. Akan selalu ada perbedaan pendapat dan penilaian. Namun yang harus dijaga adalah niat, akhlak, dan tujuan akhir, yaitu menghadirkan kebaikan bagi masyarakat dan kemajuan bagi bangsa.
Maka jangan takut menyampaikan kebaikan. Sebab diam terhadap kesalahan bukan selalu tanda cinta, dan bersuara untuk perbaikan bukan berarti membenci. Terkadang suara yang tulus adalah bentuk cinta yang paling nyata kepada negeri tercinta.
Bersuara dengan adab, mengkritik dengan bijak, dan berjuang dengan niat memperbaiki adalah bagian dari cinta kepada Indonesia.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.