Sosial

Kopi Gayo Menembus Dunia: Kebanggaan Aceh Tengah dalam Geopolitik Ekonomi

Kopi Gayo Menembus Dunia: Kebanggaan Aceh Tengah dalam Geopolitik Ekonomi
Dok : M. Fanha Apriansyah, Mahasiswa Ilmu Politik FISIP USK

kopi Arabika Gayo kembali mencatatkan sejarah di pasar Inggris melalui ekspor perdana sebanyak 19,2 ton.

Takengon |suaragayo.id | - Kopi Gayo bukan sekadar minuman yang dikenal masyarakat Aceh dan Indonesia. Komoditas ini telah menembus pasar internasional. Bagi masyarakat Aceh Tengah, perkembangan ekspor Kopi Gayo menjadi kebanggaan tersendiri karena hasil perkebunan dari Dataran Tinggi Gayo mampu dikenal hingga Amerika Serikat dan Eropa.

Pada April 2026, kopi Arabika Gayo kembali mencatatkan sejarah di pasar Inggris melalui ekspor perdana sebanyak 19,2 ton. Pengiriman berikutnya direncanakan mencapai 40 ton ke Amerika Serikat.

Sebagai warga dan mahasiswa yang berasal dari Aceh Tengah, M. Fanha Apriansyah melihat perkembangan tersebut bukan hanya dari sisi ekonomi, tetapi juga dari perspektif geopolitik.

“Kopi Gayo hari ini semakin dikenal dunia, dan ini tidak terlepas dari peran para pelaku usaha dan petani kopi. Kita patut bangga karena kopi yang tumbuh di tanah Gayo bisa menembus pasar dunia. Ini menunjukkan bahwa daerah kita memiliki komoditas yang mampu bersaing dalam perdagangan global,” ujarnya.

Dalam studi geopolitik, perdagangan komoditas merupakan bagian dari hubungan kekuatan antarnegara. Produk lokal yang berhasil masuk pasar internasional dapat menjadi instrumen untuk memperkenalkan identitas dan potensi suatu daerah.

Kopi Gayo juga menunjukkan bagaimana petani kopi, koperasi, pelaku usaha, dan eksportir berperan dalam membangun hubungan ekonomi Aceh dengan dunia internasional. Menurut data Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Aceh, ekspor kopi Aceh pada Januari–April 2026 tercatat memiliki nilai devisa sekitar Rp440,99 miliar.

Karena itu, Kopi Gayo tidak hanya berbicara tentang secangkir kopi. Di dalamnya terdapat kerja petani, budaya masyarakat Gayo, perdagangan internasional, hingga posisi Aceh dalam ekonomi global.

“Sebagai mahasiswa yang berasal dari Aceh Tengah, saya merasa bangga melihat Kopi Gayo sebagai bagian dari identitas daerah, yang mampu menumbuhkan perekonomian masyarakat Gayo secara umum dan menjadi budaya yang akan diteruskan secara turun-temurun. Menikmati secangkir kopi juga menjadi kebiasaan masyarakat Gayo, seperti kata pepatah Gayo, gere ara kupi, gere ara cerite—tidak ada kopi, tidak ada cerita,” kata Fanha.

Ke depan, penguatan kualitas, keberlanjutan produksi, dan akses pasar menjadi bagian penting agar Kopi Gayo semakin memiliki posisi dalam perdagangan internasional.

Kopi Gayo membuktikan bahwa geopolitik tidak selalu tentang konflik dan persaingan antarnegara. Geopolitik juga dapat hadir melalui perdagangan, komoditas, budaya, dan hubungan ekonomi yang menghubungkan daerah dengan dunia.

Bagi masyarakat Aceh Tengah, keberhasilan Kopi Gayo menembus pasar global menjadi alasan untuk bangga sekaligus terus menjaga kualitas dan identitas kopi dari Tanah Gayo.

 

Penulis : M. Fanha Apriansyah, Mahasiswa Ilmu Politik FISIP USK
 

Categories: Sosial Tags: —

Bag

0 Comments

  • Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Leave a comment

Newsletter Subscribe

Dapatkan berita terbaru langsung ke email Anda.