Takengon|suaragayo.id| - Dalam rangka mewujudkan pendidikan yang merata, pada 27 Agustus 2026, Kepala Sekolah SMA Negeri 13 Takengon, Bapak Winni Yusra, M.Pd., kembali mengunjungi sekolah di Desa Jamat yang dikenal sebagai sekolah jauh. Kunjungan ini bertujuan mendampingi kegiatan pembelajaran, dengan membawa serta 2 orang guru dan 1 tenaga kependidikan.
Jika ditilik dari beratnya perjalanan menuju sekolah tersebut, pendidikan di sana bagaikan elegi yang terlupakan. Bahkan di usia kemerdekaan Indonesia yang ke-81, rasanya belum pantas disebut merdeka.
Di tengah kesederhanaan sekolah, para siswa justru menghadirkan suasana hangat yang menumbuhkan semangat dan menjaga harapan. Mereka bertahan dengan ruang dan fasilitas yang kurang nyaman, terpaksa belajar dengan tiga kelas dalam satu ruangan, bahkan dengan sarana belajar yang minim. Ketimpangan ini bukan sekadar masalah letak geografis, melainkan cerminan bahwa Indonesia belum sepenuhnya merdeka, terutama di bidang pendidikan.
Meski demikian, hingga kini Kepala Sekolah terus mengupayakan agar SMA Negeri 13 Takengon, termasuk sekolah kelas jauh di Jamat ini, menjadi bukti nyata bahwa pendidikan bisa tumbuh di mana saja, selama masih ada kemauan untuk belajar.
Sebelum menutup kegiatan kunjungan, beliau berpesan kepada para siswa-siswi kelas jauh, “Kita belajar bukan tentang seberapa lengkap fasilitasnya, akan tetapi tentang seberapa besar hati untuk terus hadir. Di balik jarak yang kita tempuh, ada harapan yang kita jemput.”
Maka, sudah saatnya keadilan sosial dirasakan hingga ke ujung batas terluar negeri ini. Jangan biarkan impian besar anak-anak di pedalaman padam perlahan, hanya karena akses perjalanan yang suram dan sikap abai dalam merawat asa di pelosok negeri ini.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.