Takengon |suaragayo.id| - Ada sebuah pelajaran berharga dari kisah fabel Aesop tentang sekelompok tikus yang hidup dalam kecemasan karena selalu menjadi incaran seekor kucing yang pintar dan penuh tipu daya. Rasa takut membuat mereka berkumpul untuk mencari jalan keluar agar dapat terbebas dari ancaman yang terus menghantui.
Dalam pertemuan itu, berbagai pendapat pun bermunculan. Ada yang menawarkan gagasan ini, ada yang mengusulkan cara itu. Masing-masing merasa memiliki solusi terbaik untuk menghadapi masalah mereka.
Hingga akhirnya seekor tikus muda berdiri dan menyampaikan sebuah ide:
“Sesungguhnya masalah terbesar kita adalah karena kucing itu datang secara diam-diam tanpa kita sadari. Jika kita mengetahui kapan ia mendekat, tentu kita bisa menyelamatkan diri sebelum bahaya datang. Bagaimana kalau kita memasang sebuah lonceng kecil di leher kucing? Dalam bahasa Gayo disebut gegenta. Setiap langkahnya akan terdengar, sehingga kita dapat segera mengetahui keberadaannya.”
Mendengar usulan tersebut, seluruh tikus merasa gembira. Mereka menganggap telah menemukan jalan keluar yang sempurna. Namun, seekor tikus tua kemudian berdiri dan mengajukan sebuah pertanyaan sederhana:
“Itu memang ide yang sangat baik. Tetapi siapa di antara kalian yang sanggup memasangkan lonceng (gegenta) itu pada leher kucing?”
Suasana pun berubah menjadi hening. Tidak ada satu pun tikus yang berani menjawab. Mereka akhirnya menyadari bahwa menyusun rencana jauh lebih mudah daripada menjalankan rencana tersebut.
Kisah ini mengajarkan bahwa gagasan yang cemerlang tidak akan membawa perubahan apabila tidak disertai keberanian untuk melaksanakannya. Banyak orang mampu berbicara, memberikan kritik, dan menawarkan solusi, tetapi tidak semua bersedia mengambil tanggung jawab untuk mewujudkannya.
Dalam kehidupan sehari-hari, keadaan seperti ini sering terjadi. Banyak ide besar dibicarakan, banyak rencana dirancang, namun hanya sedikit yang mau bergerak dan mengambil bagian dalam proses mewujudkannya. Sebab perubahan tidak lahir hanya dari kata-kata, melainkan dari keberanian, kerja keras, dan kesediaan berkorban.
Ungkapan “Mugegenta i Kucing” menggambarkan sebuah keadaan ketika seseorang mudah memberikan solusi, tetapi lupa bahwa setiap solusi memiliki risiko dan membutuhkan keberanian untuk dilaksanakan. Sebuah perubahan selalu membutuhkan orang-orang yang tidak hanya pandai menyampaikan gagasan, tetapi juga siap berdiri di barisan terdepan untuk menjalankannya.
Kita tidak kekurangan orang yang mampu berbicara tentang apa yang seharusnya dilakukan. Namun, kita membutuhkan lebih banyak orang yang berani berkata: “Saya siap mengambil peran.”
Kemajuan tidak ditentukan oleh banyaknya rencana yang disampaikan, tetapi oleh keberanian orang-orang yang mau bekerja untuk mewujudkannya.
Pertanyaan terpenting bukan hanya tentang “apa solusi yang harus dibuat?”, tetapi juga “siapa yang siap bertanggung jawab untuk melaksanakannya?”
Penulis : Tengku Ridwan Bintang.,SH (anggota Majelis Permusyawaratan Ulama) Aceh Tengah)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.